Arsip

Arsip untuk Februari 9, 2010

askep dengan thypus abdominalis

Pengertian :
Typhus abdominalis merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh kuman SalmonellaTyphosa, Salmonella Paratyphi A, B da C. yang menyerang usus halus khususnya daerah illeum. Penyakit ini termasuk penyakit tropik yang sangat berhubungan erat dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Dapat dengan mudah berpindah ke orang lain melalui Fecal Oral, artinya kuman Salmonella yang ada pada pada feses penderita atau karier mengkontaminasi makanan atau minuman orang sehat.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh kuman :
a. Salmonella Typhosa
b. Salmonella Paratyphi A, B dan C
Kuman Salmonella termasuk golongan bakteri berbentuk batang, gram negatif mempunyai flagel yang memungkinkan kuman ini dapat bergerak, tidak berspora serta mempunyai tiga antigen ,yaitu :
a. Antigen O (HgO) : antigen pada bagian Soma
b. Antigen H (AgH) : antigen pada bagian flagel
c. antigen Vi (AgVi) : antigen pada bagian kapsul.

Gejala Klinik
Gejala klinik thyphus abdominalis pada pasien dewasa biasanya lebih Berat dibandingkan anak. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi melalui makanan sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi diketemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing-pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinik yang biasa ditemukan yaitu 1) demam, 2) Gangguan pada saluran pencernaan, 3) Gangguan Kesadaran.
1. Demam. Pada kasus – kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remitens dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu badan berangsur-angsur meningkat pada sore hari meningkat dan biasanya menurun pada pagi atau malam hari. Dalam minggu ke dua penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ke tiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada minggu ke empat.
2. Gangguan pada saluran pencernaan. Pada mulut terdapat bau nafas tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah (rhagaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepi lidah kemerahan, jarang dosertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar diserta nyeri pada perabaan. Defekasi biasanya konstipasi, mungkin normal dan kadang-kadang diare.
3. Gangguan kesadaran. Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa mendalam, yaitu apatis sampai somnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala diatas kadang-kadang ditemukan pada punggung atau anggota yaitu roseola berupa bintik-bintik kemerahan karena embolus basil dalam kapiler kulit terutama diketemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan mungkin didapatkan epistaksis.

Patofisiologi
Makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh kuman Salmonella Typhosa masuk kedalam lambung, selanjutnya lolos dari sistem pertahanan lambung, kemudian masuk ke usus halus, melalui folikel limpa masuk kesaluran limpatik dan sirkulasi darah sistemik, sehingga terjadi bakterimia. Bakterimia pertama-tama menyerang Sistem Retikulo Endoteleal (RES) yaitu : hati, lien dan tulang, kemudian selanjutnya mengenai seluruh organ di dalam tubuh antara lain sistem syaraf pusat, ginjal dan jaringan limpa.Cairan empedu yang dihasilkan oleh hati masuk ke kandung empedu sehingga terjadi Kolesistitis. Cairan empedu akan masuk ke Duodenum dan dengan virulensi kuman yang tinggi akan menginfeksi intestin kembali khususnya bagian illeum dimana akan terbentuk ulkus yang lonjong dan dalam. Masuknya kuman ke dalam intestin terjadi pada minggu pertama dengan tanda dan gejala suhu tubuh naik turun khususnya suhu akan naik pada malam hari dan akan menurun menjelang pagi hari. Demam yang terjadi pada masa ini disebut demam intermiten (suhu yang tinggi, naik turun dan turunnya dapat mencapai normal) Disamping peningkatan suhu tubuh juga akan terjadi obstipasi sebagai akibat penurunan motilitas suhu, namun ini tidak selalu terjadi dapat pula terjadi sebaliknya. Setelah kuman melewati fase awal intestinal, kemudian masuk ke sirkulasi sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh yang sangat tnggi dan tanda-tanda infeksi pada RES seperti nyeri perut kanan atas, splenomegali dan hepatomegali. Pada minggu selanjutnya dimana infeksi Focal Intestinal terjadi dengan tanda-tanda suhu tubuh masih tetap tinggi, tetapi nilainya lebih rendah dari fase bakterimia dan berlangsung terus menerus ( demam kontinue ), lidah kotor, tepi lidah hiperemis, penurunan peristaltik, gangguan digesti dan absorbsi sehingga akan terjadi distensi, diare dan pasien merasa tidak nyaman, pada masa ini dapat terjadi perdarahan usus, perforasi dan peritonitis dengan tanda distensi abdomen berat, peristaltik menurun bahkan hilang, melena, syock dan penurunan kesadaran.

Diagnosis
Untuk membuat diagnosa pasti perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan darah tepi untuk mendapatkan gambaran mengenai :
a. leukopenia
b. limfositosis relatif
c. eosinopilia
d. Trombositopenia
2. Pemeriksaan sumsum tulang untuk mengetahui RES hiperaktif ditandai dengan adanya sel makrofag, sel hemopoetik, granulopoetik,eritropoetik dan trombopoetik berkurang
3. Biakan empedu
Untuk mengetahui Salmonella typhosa dalam darah penderita terutama pada minggu pertama. Selanjutnya diketemukan dalam faeces / urine dan mungkin tetap positif dalam waktu lama.
4. Pemeriksaan widal
Dasar pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspensi antigen salmonella typhosa. Pemeriksaan dinyatakan positif bila terjadi reaksi aglutinasi
Untuk membuat diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O yang bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukan kenaikan yang progresif. Titer O dipakai untuk menentukan diagnosis karena mencapai puncaknya bersamaan dengan penyembuhan penderita. Sedangkan titer H tidak diperlukan untuk diagnosis karena dapat tetap tinggi setelah penderita lama sembuh.

Penatalaksanaan Medik
1. Isolasi penderita
2. Perawatan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
3. Istirahat selama demam sampai 6 hari bebas panas.
4. Diet.
5. Obat. Pilihan terbaik Chloramphenicol dengan dosis tinggi 100 mg/kg BB/hari (maksimum 2 gram perhari) diberikan 4 x sehari peroral atau intravena, kecuali penderita tidak cocok dapat diberikan obat lain.
6. Bila terjadi komplikasi diberikan terapi yang sesuai. Misalnya Intravena fluid drip (IVFD).

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi yaiut a) pada usus dan b) diluar usus.
a. Pada Usus yaitu (1) perdarahan usus, (2) Perforasi usus (3) Peritonitis.
b. Diluar usus yaitu (1) Meningitis (2) Bronchopneumonia (3) dll.

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Keperawatan
Data Subyektif:
a. Pola hidup.sehari-hari
Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak diolah dengan baik. Sumber air minum yang tidak sehat dan kondisi lingkungan rumah tempat tinggal yang tidak sehat, serta kebersihan perseorangan yang kurang baik.

b. Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah pasien pernah menderita penyakit yang sama dan kapan terjadi.

c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah di dalam keluarga ada yang pernah atau sedang menderita penyakit yang sama.

d. Keluhan yang dirasakan pasien, kaji dengan lengkap dengan PQRST antara lain:
- Peningkatan suhu tubuh yang berfluktuasi
- Tubuh lemah
- Kurang nafsu makan
- Perut kembung
- Konstipasi/diare
- Nyeri abdomen

Data Objektif
a. Peningkatan suhu tubuh
Minggu I: demam intermiten
Minggu II demam Remiten
MingguIII;demam kontinue
b. Relatif Bradikardi
Peningkatan satu derajat selcius suhu tubuh akan disertai penambahan denyut nadi ,namun pada sebagian penderita dapat dijumpai justru sebaliknya yaitu bradikardi.

c. Lidah kotor berselaput putih dan tepi hiperemis disertai stomatitis.
Tanda ini jelas muai nampak pada minggu ke dua berhubungan dengan infeksi sistemik dan endotoxin kuman.

d. Hepatomegali dan splenomegali
Pembesaran hepar dan lien mengindikasikan infeksi RES yang mulai terjadi pada minggu ke II.

e. Tanda Murphy Positif
Menandakan infeksi kandung empedu.

f. Peristaltik
Dijumpai penurunan peristaltik atau bahkan hilang.

g. Distensi abdomen dan nyeri
h. Konstipasi atau diare
Konstipasi terjadi pada minggu I dan selanjutnya dapat terjadi diare.

i. Hematemesis dan melena
Dapat terjadi perdarahan ulkus illeum yang akan menyebabkan hematemesis, dan melena, distensi abdomen, hipoperistaltik / aperistaltik.

j. Tanda-tanda gangguan sirkulasi akibat perdarahanyaitu:
- Perubahan tanda-tanda vital,khususnya nadi dan tekanan darah
- Kulit pucat, akral dingin.
- Penurunan kesadaran

k. Tanda-tanda Peritonitis
- Suhu tubuh sangat tinggi
- Distensi abdomen dan tegang
- Kesadaran menurun
- Aperistaltik
l. Pemeriksaan Darah
Kadar Hb., Ht.
Leukosit dan Diff.
Khas penurunan leukosit oleh karena endotoxin kuman menekan RES dalam memproduksi leukosit.

Pemeriksaan Penunjang Gaal cultur dan Widal
Mengukur kadar/titer antigen soma dan flagel ( titer O dan H ). Yang lebih akurat adalah kadar titer O. Peningkatan kadar titer ini menggambarkan virulensi kuman. Gaal adalah biakan cairan empedu, hasil yang diharapkan adalah biakan caiarn empedu,hasil yang diharapkan adalah berupa gaal positip/negatif.

Diagnosa Keperawatan Yang mungkin Dijumpai pada pasien dengan typhus Abdominalis yaitu:
1. Nutrisi / cairan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh,b/d anoreksia, gangguan digesti dan absorbsi nutrien.
2. Gangguan rasa nyaman b/d peningkatan suhu tubuh akibat proses infeksi kuman Salmonella.
3. Resiko terjadi komplikasi ( perdarahan, ferforasi dan peritonitis ) b/d perlukaan ulkus intestinal.
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik dan penurunan kesadaran
Pendidikan Kesehatan :
Pengetahuan tentang hidup sehat perlu disampaikan pada pasien dan keluarga untuk mencegah infeksi ulang karena kuman yang sama, pendidikan ini mencakup :

Penyediaan makanan sehat
Pengolahan makanan sesuai dengan cara sehat.
Menggunakan air bersih yang sehat.
Mencegah binatang /serangga mencemati makanan.
Hindarkan mengkonsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya.

Kebersihan perseorngan yang baik;
Mencuci tangan sebelum makan, dan selalul menggunakan sendok.
Kuku selalu pendek dan bersih
Mencuci tangan dengan sabun pada waktu cebok sehabis bab.

Kebersihan lingkungan tetap terjaga.
Cegah perkembangbiakan vektor.( tumpukan sampah, lantai kotor,WC. Terbuka dan kotor )
Bersihkan lingkungan dalam dan sekitar rumah setiap hari.
Cegah aliran air kotor yang tersumbat.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges M. E., et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

M.Sjaifoellah N, et al, (1996), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta.

Wolf, el al, (1984),Dasar-Dasar Ilmu Keperawatan, PT.Jaya Pirusa, Jakarta.

Categories: studi tour

askep pada anak dg pneumonia

RENCANA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru
Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis
Tujuan :
Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :
Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
Laju nafas dalam rentang normal
Tidak terdapat batuk, cyanosisi, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis

Tindakan keperawatan
Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas
R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan
Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)
R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
Lakukan suction secara bertahap
R : Membantu pembersihan jalan nafas
Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan

2. Defisit Volume Cairan b.d :
- Distress pernafasan
- Penurunan intake cairan
- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam

Karakteristik :
Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.

Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :
Intake adekuat, baik IV maupun oral
Tidak adanya letargi, muntah, diare
Suhu tubuh dalam batas normal
Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020

Intervensi Keperawatan :
Catat intake dan output, berat diapers untuk output
R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line
R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum

Diagnosis lain :

1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi
2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada
3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam
4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan

Referensi :
Acton, Sharon Enis & Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley Co. Philadelphia

Categories: studi tour

askep pada HIV AIDS

I. Pengertian
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

II. Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
IV. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
- ELISA
- Western blot
- P24 antigen test
- Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
- Hematokrit.
- LED
- CD4 limfosit
- Rasio CD4/CD limfosit
- Serum mikroglobulin B2
- Hemoglobulin

V. Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian.
1. Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan obat-obat.
2. Penampilan umum : pucat, kelaparan.
3. Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit tidur.
4. Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.
5. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati, withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker, hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.
6. HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia, epsitaksis.
7. Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo, ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.
8. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
9. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
10. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
11. GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.
12. Gu : lesi atau eksudat pada genital,
13. Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.

II. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
3. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
5. Diare berhubungan dengan infeksi GI
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.
Daftar Pustaka

Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.

Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.

Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.

Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.

Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta

Categories: studi tour

askep pada multiple fraktur

Adalah terputuisnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berubah trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.
Akibat trauma pada tulang tergantuing pada jenis trauma,kekuatan, dan arahnya.Taruma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ketulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang yang didekat sendi atau yang mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.
II. Klasifikasi patah tulang.
Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidanya hubungan antara patahan tulang denga dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk kedalam luka sampai ke tulang yang patah.
Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.
Patang tulang juga dapat dibagi menurut garis fraktrunya misanya fisura, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif ( pengecilan, patah tulang segmental,patah tulang impaksi ), patah tulang kompresi, impresi dan patah tulang patologis.
Derajat patah tulang terbuka terbagi atas 3 macam yaitu :
1. laserasi 2 cm kontusi otot diserkitarnya bentuknya dislokasi, fragmen jelas
3. Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya bentuknya kominutif, segmental,fragmen tulang ada yang hilang
Jenis patah tulang dapat digolongkan menjadi :
1. Visura ( Diafisis metatarsal
2. Serong sederhana ( Diaphisis metacarpal )
3. Lintang sederhana ( diafisis tibia )
4. Kominutif ( Diafisis femur )
5. Segmental ( Diafisis tibia )
6. Dahan hijau ( diafisis radius pada anak )
7. Kompresi ( Korpus vertebral th. XII )
8. Impaksi ( epifisis radius distal,kolum femur lateral )
9. Impresi ( tulang tengkorak )
10. Patologis ( Tomur diafisi humerus,kurpus vertebral)

III. Komplikasi patah tulang .
Komplikasi patah tulang meliputi :
1. Komplikasi segera
Lokal :
• Kulit( abrasi l;acerasi, penetrasi)
• Pembuluh darah ( robek )
• Sistem saraf ( Sumssum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik)
• Otot
• Organ dalam ( jantung,paru,hepar, limpha(pada Fr.kosta),kandung kemih (Fr.Pelvics)
Umum :
• Ruda paksa multiple
• Syok ( hemoragik, neurogenik )
2. Komplikas Dini :
Lokal :
• Nekrosis kulit, gangren, sindroma kopartemen,trombosis vena, infeksi sendi,osteomelisis )
Umum :
• ARDS,emboli paru, tetanus.
3. Kompliasi lama
Lokal :
• Sendi (ankilosis fibrosa, ankilosis osal )
• Tulang ( gagal taut/lama dan salah taut,distropi reflek,osteoporosisi paskah trauma,ggn pertumbuhan,osteomelisis,patah tulang ulang)
• Otot atau tendon ( penulangan otot, ruptur tendon )
• Saraf ( kelumpuhan saraf lambat
Umum :
• Batu ginjal ( akibat mobilisasi lama ditempat tidur)

IV. Penatalaksanaan patah tulang.
Penatalaksanaan patah tulang mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yang meliputi :
1. Jangan ciderai pasien( Primum Non Nocere).
2. Pengobatan yang tepat berdasarkanb diagnosis dan prognosisnya
3. Sesuai denga hokum alam
4. Sesuai dengan kepribadian individu
Khusus untuk patah tulang meliputi :
4. Reposisi
5. Imobilisasi
6. Mobilisasi berupa latihan seluruh system tubuh.

V. Asuhan keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Riwayat perjalanan penyakit.
2. Riwayat pengobatan sebelumnya.
3. Pertolongan pertama yang dilakukan

4. Pemeriksaan fisik :
? Identifikasi fraktur
? Inspeksi
? Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)
? Observasi spasme otot.

5. Pemeriksaan diagnostik :
? Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)
? RÖ
? CT-Scan

6. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)
? Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :
a. Osteomyelitis acut
b. Osteomyelitis kronik
c. Osteomalacia
d. Osteoporosis
e. Gout
f. Rhematoid arthritis
PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
DATA SUBYEKTIF
? Data biografi
? Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan, deformitas, ROM, gangguan sensasi.

? Cara PQRST :
o Provikatif (penyebab)
o Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)
o Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)
o Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)
o Timing (kapan mulainya)

? Pengkajian pada sistem lain
o Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.
o Riwayat dirawat di RS
o Riwayat keluarga, diet.
o Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan
o Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.

DATA OBYEKTIF
? Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot
? Bandingakan dengan sisi lainnya.
? Pengukuran kekuatan otot (0-5)
? Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.
? Kyposis, scoliosis, lordosis.

PROSEDUR DIAGNOSTIK
1. X-ray dan radiography
2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen). Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan diperiksa.
3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau mengevaluasi bone graf).
4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada anak-anak sebelum operasi epifisis).
5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
6. MRI
7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)

MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI
1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.
• Berdampak luas pada aspek psikososial klien.
• Klien membutuhkan imobilisasi ? menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi
• Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :
- Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)
- Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)
- Lutut (ekstensi)
- Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)

2. Nyeri; tindakan keperawatan :
• Merubah posisi pasien
• Kompres hangat, dingin
• Pemijatan
• Menguragi penekanan dan support social

• Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :
- Kejadian sebelum terjadinya nyeri
- Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul
- Penyebaran nyeri
- Lamanya nyeri
- Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan
- Sumber nyeri
- Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.

3. Spasme otot
• Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)
• Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.

• Tindakan keperawatan :
a. Rubah posisi
b. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut
c. Berikan ruangan yang cukup hangat
d. Hindari pemberian obat sedasi berat ? dapat menurunkan aktivitas pergerakan selama tidur
e. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program

INTERVENSI
1. Istirahat
• Istirahat adalah intervensi utama
• Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
• Pemasangan bidai/gips.

1. Kompres hangat
• Rendam air hangat/kantung karet hangat
• Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan

• Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :
o Perlunakan jaringan fibrosa
o Membuat relaks otot dan tubuh
o Menurunkan atau menghilangkan nyeri
o Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.

2. Kompres dingin
• Metoda tidak langsung seperti cold pack
• Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic
• Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma
• Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot
• Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis
• Tidak sampai > 30 menit.

Categories: studi tour

kemelut di rsu dr. slamet garut

Kemelut di RSU dr. Slamet Garut
Oleh : Ir. Mohamad Faridudin | 07-Feb-2010, 01:20:59 WIB

KabarIndonesia – Bermula dari kesulitan berlarut-larut pengadaan barang, yaitu obat-obatan dan peralatan medis bagi kebutuhan pasien, terkuaklah berbagai permasalahan manajerial di tubuh Badan Pengelola (BP) RSU dr. Slamet Garut. Para tenaga pelaksana lapangan, dokter, bidan, perawat sampai tenaga adminstratif. Awalnya hanya menduga terjadi miskomunikasi antara bawahan dan atasan. Akan tetapi setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata persoalan tidak sesederhana itu.

Berbagai macam persoalan di tubuh manajemen mulai bermunculan ke permukaan manakala para staf dan pegawai didorong keprihatinannya terus menggali informasi dan data dari berbagai sumber, terkait persoalan komplik manajemen sampai masalah indikasi korupsi yang berujung adanya pemeriksaan dari kepolisian dan kejaksaan.

Sangat disayangkan, penanganan masalah terkesan lambat, sepertinya ada upaya-upaya menyelamatkan oknum para koruptor dengan berbagai cara. Pimpinan yang diduga bermasalah tetap dipertahankan pada posisinya. Bahkan dengan mencuatnya bukti-bukti indikasi adanya korupsi yang dilakukan si oknum tersebut, bukannya mengamputasi atau merampingkan manajemen, akan tetapi unsur pimpinan malah semakin ditambah.

Terkesan direktur RSU dr. Slamet Garut bukannya menyelesaikan masalah, akan tetapi seperti mencari pembenaran dengan berupaya mencari dukungan, pembuktian semu serta pembelaan ke sana kemari. Rekayasa akhirnya menjadi pilihan. Contoh kasus: Demi alasan legitimasi, pelaksanaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), presentasi dengan pemerintah daerah pun menggunakan jasa konsultan, bukannya pegawai RSU sendiri yang dikedepankan.

Tentu saja dari kejadian ini dapat diduga merupakan kesalahan manajemen yang terjadi dapat ditutup rapat-rapat, sehingga persoalan yang sebenarnya menjadi tersamarkan. Perubahan manajemen yang diharapkan para pegawai seakan-akan jalan di tempat, sedangkan persoalan yang melilit semakin lama semakin bertambah rumit dan kompleks. Betapa tidak? Urusan pengadaan barang menjadi selalu tersendat dan terlambat. Hal-hal yang sebenarnya cukup mudah diselesaikan menjadi sulit untuk dilakukan. Sampai pernah kejadian pasien dipulangkan sebelum waktunya disebabkan ketiadaan obat dan peralatan medisnya.

Demikian dikatakan Sekjend LSM Gerbang (Gerakan Reformasi Anak Bangsa), Irfan, panjang lebar tatkala dimintai komentarnya tentang kemelut yang terjadi di RSU dr. Slamet Garut, dan diiyakan beberapa pegawai di sana yang dimintai kesaksiaannya.

Ditambahkan oleh beberapa pegawai RSU dr. Slamet; “Kami tidak mempermasalahkan perubahan manajemen menjadi BLUD, hanya tolong prosesnya lebih aspiratif dan demokratis.”

Kemudian masalah pengadaan barang dikatakannya agar jangan disamakan tender dan lelang di rumah sakit dengan lembaga lain. Diupayakan ada flesibilitas karena rumah sakit mengurus orang, bukan benda.

Sementara itu Direktur RSU dr. SLAMET, dr. Widjayanti Utoyo dengan cukup terperinci menjelaskan pada Pewarta HOKI berbagai persoalan yang terjadi di lembaganya. Kata beliau, “Segala macam kebijakan yang ditempuhnya sudah disesuaikan dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Pihak manajemen setiap akan mengambil keputusan sekecil apapun keputusan itu selalu dibicarakan dan dimusyawarahkan terlebih dahulu.”

Ketika disinggung tentang aturan pengadaan barang, dr. Widjayanti menjawab, “Kami melaksanakannya sesuai Juklak dan Juknis yang berlaku, yakni mengacu pada Kepres No. 80 Tahun 2008 tentang Pengadaan Jasa dan Barang melalui tender dan lelang.

Selain itu ketika dimintakan komentarnya terkait pembenahan SOTK (Struktur Organisasi dan Tata Kerja) RSU dr. Slamet yang ramai menjadi sorotan publik, Widjayanti Utoyo menjelaskan, “Perubahan SOTK, apalagi menyangkut penggantian pejabat eselon 3 (Direktur, Wakil Direktur dan Manajer-manajer Operasional lainnya) sepenuhnya kewenangan Pemkab, dalam hal ini Bupati Garut.”

Ditegaskan dr. Widjayanti, “Semua yang terjadi di RSU dr. Slamet Garut adalah semata-mata miskomunikasi. Bahkan dari beberapa kali pemeriksaan dan auditing pihak-pihak terkait (Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Inspektorat, dan lain-lain) ke RSU dr. Slamet, mereka menyatakan, “Tidak ada masalah apapun di RSU, semuanya sudah beres!. Kami pihak manajemen akan melakukan berbagai upaya lebih menyosialisasikan segala keputusan manajemen lebih intens lagi.”

Di akhir perbincangan, bahkan dengan sedikit canda, beliau berkata, “Kalau tidak bersalah kenapa takut? Itu semua merupakan bahan introspeksi buat kami.”(*)

Categories: studi tour
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.