Beranda > Uncategorized > asuhan keperawatan diare pada febris konvulsi

asuhan keperawatan diare pada febris konvulsi

Asuhan Keperawatan Kejang demam

By admin on January 28th, 2009

I. PENGERTIAN

a). Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

b). Kejang adalah pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel syaraf cortex serebral yang ditandai dengan serangan yang tiba – tiba (marillyn, doengoes. 1999 : 252)

II. ETIOLOGI

Penyebab dari kejag demam dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :

1. Obat – obatan

racun, alkhohol, obat yang diminum berlebihan

2. Ketidak seimbangan kimiawi

hiperkalemia. Hipoglikemia dan asidosis

3. Demam

paling sering terjadi pada anak balita

4. Patologis otak

akibat dari cidera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tik

5. Eklampsia

hipertensi prenatal, toksemia gravidarum

6. Idiopatik

penyebab tidak diketahui

III. PATOFISIOLOGI

patofis-kejang-demam-1

patofis-kejang-demam-2

IV. MANIFESTASI KLINIK

Ada 2 bentuk kejang demam, yaitu :

1. Kejang demam sementara

· Umur antara 6 bulan – 4 tahun

· Lama kejang <15 menit

· Kejang bersifat umum

· Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam

· Tidak ada kelainan neurologis, baik klinis maupun laboratorium

· Eeg normal 1 minggu setelah bangkitan kejang

2. Kejang demam komplikata

· Diluar kriteria tersebut diatas

V. KOMPLIKASI DARI KEJANG DEMAM

1. hipoksia

2. hiperpireksia

3. asidosis

4. ernjatan atau sembab otak

VI. FASE – FASE KEJANG DEMAM

1. Fase prodromal

Perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin mengawali kejang beberapa jam/ hari

2. Fase iktal

Merupakan aktivitas kejang yag biasanya terjadi gangguan muskulosketal.

3. Fase postiktal

Periode waktu dari kekacauan mental atau somnolen, peka rangsang yang terjadi setelah kejang tersebut.

4. Fase aura

Merupakan awal dari munculnya aktivitas kejang, yang biasanya berupa gangguan penglihatan dan pendengaran.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIK

1. Pemberian diazepam

· dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/ kg bb/ dosis iv (perlahan )

· bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosisi ulangan setelah 20 menit

2. Turunkan demam

· anti piretik : para setamol atau salisilat 10 mg/ kg bb/ dosis

· kompres air biasa

3. Penanganan suportif

· bebaskan jalan nafas

· beri zat asam

· jaga keseimbangan cairan dan elektrolit

· pertahankan tekanan darah

VIII. PENCEGAHAN KEJANG DEMAM

1. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri diazepam dan anti piretika pada penyakit yang disetai demam.

2. Pencegahan kontinu untuk kejang komplikata

· fenobarbital : 5 – 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis

· fenotoin : 2- 8 mg/ kg BB/ 24 jam 2 – 3 dosis

· klonazepam : indikasi khusus

3. Diberikan sampai 2 tahun bebas kejang atau sampai umur 6 tahun

IX. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Elektrolit : tidak seimbang dapat berpengaruh pada aktivitas kejang

2. Glukosa : hipoglikemia dapat menjadi presipitasi (pencetus) kejang.

3. Ureum/ kreatinin : dapat maningkatkan resiko timbulnya aktivitas kejang

4. Kadar obat dalam serum : untuk membuktikan batas obat anti konvulsi yang terapeutik.

5. Elektroensepalogram (eeg) : dapat melokalisir daerah serebral yang tidak berfungsi dengan baik, mengukur aktivitas otak.

X. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Data Dasar Pasien

1. Aktivitas/ istirahat

Gejala : keletihan, kelemahan umum

Keterbatasan dalam beraktivitas

Tanda : perubahan tonus dan kekuatan

2. Sirkulasi

Gejala : iktal : hiertensi, peningkatan nadi, sianosis

Postiktal : depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan

3. Elimnasi

Gejala : inkontinensia episodik

Tanda : iktal : peningkatan tekanan kandung kemih

Posiktal : inkontenensia urine

4. Makanan dan cairan

Gejala : sensitivitas terhadap makanan, mual, muntah

Tanda : kerusakan jaringan lunak (cidera selama kejang)

5. Neurosensori/ kenyamanan

Gejala : riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsang, pusing

Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area paralitik

6. Pernafasan

Gejala : iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun/ cepat, peningkatan sekresi mukus

B. Diagnosa Yang Mungkin Muncul

1. Resiko terhadap penghentian pernafasan barhubungan dengan kelemahan dan kehilangan koordinasi otot besar dan kecil

2. Bersihkan jalan nafas inefektif berhubungan dengan obstruksi trakeobronkial dan peningkatan sekresi mukus

C. Intervensi Keperawatan

DX 1 : Resiko Terhadap Penghentian Pernafasan Berhubungan Dengan Kelemahan Dan Kehilangan Koordinasi Otot Besar Dan Kecil

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan penghentian pernafasan tidak terjadi

Kriteria hasil :

RR dalam batas normal (16 – 20 x/ menit )

Tak kejang

Klien mengungkapkan perbaikan pernafasannya

Intervensi :

1. Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur dengan tempat tidur rendah

R/ : mengurangi trauma saat kejang

2. Masukan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik / biarkan pasien menggigit benda lunak atara gigi.

R/ : menurunkan resiko terjadinya trauma mulut

3. Observasi TTV

R/ : menentukan kegawatan kejang dan intervensi yang sesuai

4. catat tipe dari aktivitas kejang

R/ : membantu untuk melokalisir daerah otak

5. Lakukan penilaian neurologis, tingkat kesadaran, orientasi

R/ : mencatat keadaan postiktal dan waktu penyembuhan

6. Biarkan tingkah laku “ automatik” tanpa menghalangi

R/ : untuk menghindari cidera atau trauma yang lebih lanjut

7. Kolaborasi dalam pemberian obat anti convulsi

R/ : untuk mencegah kejang ulangan

DX 2 : Bersihan Jalan Nafas Inefektif Berhubungan Dengan Peningkatan Sekresi Mukus, Obstruksi Jalan Nafas

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif

Kriteria hasil : sekresi mukus berkurang

tak kejang

gigi tak menggigit

Intervensi :

1. Anjurkan klien mengosongkan mulut dari benda

R/ : menurunkan aspirasi atau masukanya benda asing ke faring

2. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar

R/ : mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas

3. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen

R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas

4. Masukan spatel lidah

R/ : untuk membuka rahang dan mencegah tergigitnya lidah

5. Lakukan penghisapan lendir

R/ : menurunkan resiko aspirasi

DAFTAR PUSTAKA

Marillyn, doengoes. 2001. rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC

Sylvia, A. pierce.1999. patofisologi konsep klinis. Proses penyakit. Jakarta : EGC

About these ads
Kategori:Uncategorized
  1. Februari 7, 2010 pukul 9:40 | #1

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: